Senin, 13 Desember 2010

TEORI BELAJAR PSIKOLOGI HUMANISTIK (KOLB)

Ditulis Oleh : Eka Yanuarti
A.    Pendahuluan
Teori psikologi Humanistik memberikan keluasan yang sangat besar kepada pendidik dan Anak didik dalam melakukan dialektika pembelajaran, sehingga terjalin komunikasi dua arah yang saling memahami karakter dan konsern dari setiap proses pembelajaran sehingga meransang siswa untuk “merdeka”.
Anak dapat mengkostruksi pengetahuan dan memberi makna melalui pengelaman nyata dan dirinya sendiri yang pada akhirnya anak mampu mengaktualisasikan dirinya sesuai jelmaan yang diinginkannya.
Adanya kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciftakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Mengutip Kahlil Gibran dalam tulisan Anita Lie, “Berikan mereka kasih sayangmu, tetapi jangan sodorka pikiranmu. Sebab pada mereka, ada alam pikiran tersendiri. Engaku patut memberikan untuk raganya, tetapi tidak untuk jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan yang tidak dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi. Engkau boleh berusaha menyerupai mereka namun jangan membuat mereka menyerupaimu. Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, juga tidak tenggelam di masa lampau. Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur”. (Anita Lie, 2008: x). Bait-bait ini menginformasikan kepada pendidik (orang tua, guru, masyarakat) untuk memahami setiap individu dari anak-anak itu memiliki keunikan.
Manusia (anak) adalah makhluk yang unik. Berkat daya psikis cifta, rasa dan karsanya, manusia (anak) bisa tahu bahwa ia mengetahui dan juga ia tahu bahwa ia dalam keadaan tidak mengetahui. Manusia (anak) mengenal dunia disekelilingnya dan lebih daripada itu, mengenal dirinya sendiri. Dengan daya fisikisnya mampu menghadapi persoalan kehidupan horizontal maupun vertikal. (Suparlan Suhartono, 2008: 31). Dengan potensi akal, dapat mengatasi persoalan kehidupan secara matematis menurut asas penalaran deduktit dan induktif. Dengan potensi rasa, mengatasi persoalan dengan estetik menurut asas perimbangan. Dengan rasa karsa mengatasi persoalan melalui pendekatan perilaku menurut asas etika. Dengan asas inilah manusia dapat menemukan kebenaran, keindahan dan kebaikan untuk dapat berkehidupan yang saleh dan bijaksana (philosophia)(Suparlan Suhartono, 2008: 32).
Secara garis besar teori-teori belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, teori belajar menurut Psikologi Behavioristik. Kedua, teori belajar menurut Psikologi Kognitif. Ketiga, teori belajar menurut Psikologi Humanistik. teori yang terakhir inilah yang akan kita temukan didalam uraian-uraian berikutnya.
Teori belajar Behavioristik yang menjelaskan tentang peranan factor-faktor eksternal dan dampaknya terhadap perubahan perilaku seseorang. Teori Kognitif berpandangan bahwa belajar merupakan sebuah proses mental aktif untuk memperoleh, mengingat, dan menggunakan pengetahuan. Sedangkan teori Humanistik menggunakan pendekatan motivasi yang menekankan pada kebenaran personal, penentuan pilihan, determinasi diri dan perubahan individual. ((Benny A. Pribaadi, 2009: 81).
Munculnya teori humanistik merupakan tesa dan anti tesa terhadapa teori-teori belajar sebelumnya, seperti teori psikoanalisis dan behaviorisme. Teori humanistik mengungkapkan bahwa tiap orang itu menentukan perilaku mereka sendiri. Mereka bebas memilih dalam memilih kualitas hidup mereka. tidak terikat oleh lingkungannya. (Westy Sumanto, 2006: 137). Dalam tulisan ini pembaca akan menemukan konsep-konsep humanistik yang lebih difokuskan kepada konsep belajar humanistik ala Kolb, tetapi sedikit akan kita bahas teori-teori belajar aliran humanistik lain sebagai perbandingan dan pengayaan agar dapat menemukan konsep belajar Kolb secara konprehensip.

B.     Teori Humanistik dalam Pemahaman
Pada akhir tahun 1940-an muncullah suatu perspektif psikologi baru. Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini, misalnya ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial dan konseler, bukan merupakan hasil penelitian dalam bidang proses belajar. Gerakan ini berkembang dan kemudian dikenal sebgai psikologi humanistik, eksenstensial, perceptual, atau fenomenologikal. Psikologi ini berusaha untuk memahami perilaku seseorang dari sudut si pelaku (behaver), bukan dari pengamat (observer). (Westy Sumanto, 2006: 136).
Menurut Jarolimak dan Foster, dalam dunia pendidikan, aliran humanistik muncul pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1970-an dan mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama dua dekade yang terakhir pada abad 20 ini pun juga akan menuju pada arah ini. (Westy Sumanto, 2006: 136).
James Bugental, mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu: (1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen; (2) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya; (3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan (5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas. (http://delita.ngeblogs.com/2009/10/09/psikologi-humanistik).
Bagi penganut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Dari teori yang ada. Teori humanistik inilah yang paling abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat dari pada dunia pendidikan. (Hamzah B. Uno, 2008: 13). Dalam praktek, teori ini antara lain terwujud dalam pendekatan yang diusulkan oleh Ausubel, yang disebut juga “belajar bermakna” atau meaningful learning. (Hamzah B. Uno, 2008: 13).
Teori belajar humanistik menggunakan pendekatan motivasi yang menekankan pada kebebasan personal, penentuan pilihan, determinasi diri, dan pertumbuhan individu. Teori belajar humanistik berpandangan bahwa peristiwa belajar yang ada saat ini lebih banyak ditekankan pada aspek kognitif semata, sementara aspek afektif dan psikomotor menjadi terabaikan. Padahal setiap anak merupakan individu yang unik, memiliki perasaan dan gagasan orisinil. Tugas pendidik adalah membantu individu agar berkembang secara sehat dan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. (Benny A. Pribadi, 2009: 79-80).
Psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik ini. (http://delita.ngeblogs.com). Berikut teori-teori menurut tokoh-tokoh psikologi humanistik. mengutip dari Suhirman dalam ngeblogs. com sebagai berikut.
  1. Combs
Combs, ia menyatakan bila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami persepsi orang itu. Apabila ingin mengubah perilaku seseorang, kita harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan orang itu, perilaku dalamlah yang membedakan seseorang dari yang lain.
  1. Maslow
Maslow menyatakan bahwa di dalam diri kita ada 2 hal, yaitu : Pertama. Suatu usaha yang positif untuk berkembang. Kedua. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
  1. Rogers
Rogers dalam bukunya Freedom to Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistik yang penting, diantaranya ialah :
1)      Manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami.
2)      Belajar yang signifikan terjadi apabila Subject mater dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksudnya sendiri
3)      Belajar yang menyangkut suatu perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
4)      Tugas-tugas belajar yang mengancam diri adalah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
5)      Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
6)      Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7)      Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar itu.
8)      Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
9)      Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas lebih mudah dicapai terutama siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengeritik dirinya sendiri dan penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang penting.
Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenai proses perubahan itu. (http//ngeblogs. com).
Menurut Hamzah B. Uno, tokoh-tokoh humanistik yang akan dibahas, merupakan perwujudan dalam pendekatan Ausubel, teori ini juga dimasukkan dalam aliran kognitif. Teori ini juga terwujud dalam teori Bloom dan Krathwohl dalam bentuk taksonomi Bloom. Selain itu ada empat pakar lain yang juga termasuk ke dalam kubu teori ini adalah Kolb, Honey, dan Mumford, serta Habermas, yang masing-masing pendapatnya akan dibahas berikut ini.
4.  Bloom dan Krathwohl
Bloom dan Karthwohl menunjukan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa, yang tercakup dalam tiga kawasan berikut:
a. Kognitif
 Kognitif terdiri dari enam tingkatan, yaitu:
1)      Pengetahuan (mengingat, menghafal)
2)      Pemahaman (menginterpretasikan)
3)      Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah)
4)      Analisis (menjabarkan suatu konsep)
5)      Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh)
6)      Evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode dan sebagainya)


b. Psikomotor
 Psikomotor terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
1)      Peniruan (menirukan gerak)
2)      Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
3)      Ketetapan (melakukan gerak dengan benar)
4)      Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)
5)      Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)
c.  Afektif
 Afektif terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
1)      Pengenalan (ingin menerima, sadae akan adanya sesuatu)
2)      Merespon (aktif berpartisipasi)
3)      Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia pada nilai-nilai tertentu)
4)      Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai yang dipercayai)
5)      Pengalaman (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup)
Taksonomi Bloom ini, seperti yang kita telah ketahui, berhasil memberikan inspirasi kepada banyak pakar lain untuk mengembangkan teori-teori belajar dan pembelajaran. Selain itu, Teori Bloom juga banyak dijadikan pedoman untuk membuat butir-butir soal ujian, bahkan digunakan oleh orang-orang yang mengkritik taksonimi tersebut. Kritikan atas klasifikasi dan kemampuan yang dikemukakan Bloom ternyata diperbaiki oleh para pakar pendidikan dengan mengadakan revisi pada aspek kognitif. Dalam klasifikasi taksonominya pada aspek kogntif , Bloom mengemukakan enam tingkatan kemampuan yang meliputi: Pengetahuan, Pemahaman, Penerapan, Analisis, Sintesis dan Evaluasi.
5. Honey dan Mumford
Honey dan Mumford membuat penggolongan siswa. Menurut mereka, ada empat macam atau tipe siswa, yakni:



1). Aktivis.
Ciri siswa yang bertipe aktivis adalah mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru, mereka cenderung berfikiran terbuka dan mudah diajak berdialog. Tetapi, siswa semacam ini kurang skeptis terhadap sesuatu.
2). Reflektor
Siswa yang bertipe Reflektor, sebaliknya, cenderung sangat berhati-hati dalam mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan, siswa tipe ini cenderung “konservatif”, dalam arti mereka suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruknya suatu keputusan.
3). Teoritis
Siswa yang bersifat teoritis biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subyektif. Bagi mereka berfikir secara rasional adalah suatu yang sangat penting.
4).  Pragmatis
Siswa yang bersifat pragmatis biasanya menaruh perhatian besar pada aspek- aspek praktis dari segala hal. Namun kebanyakan dari siswa ini tidak suka berlarut-larut dalam membahas suatu teori. Karna bagi mereka, sesuatu atau teori dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa diperaktekan.
6. Habermas
Habermas memandang bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Dengan asumsi ini Habermas mengelompokan tipe belajar menjadi tiga bagian, yaitu:
Belajar teknis (technical learning) yaitu bagaimana siswa belajar berinteraksi dengan alam sekeliling.
1)      Belajar praktis (practical learning), yaitu siswa juga belajar berinteraksi, tetapi pada tahap ini yang lebih dipentingkan adalah interaksi antara dia dengan orang-orang yang ada disekitarnya), yaitu bagaimana siswa belajar berinteraksi dengan alam sekelilingnya.
2)      Belajar emansipatoris (emancipatori learning). Yaitu Siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang transformasi cultural dari suatu lingkungan. Bagi Habermas, pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi cultural ini dianggap tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi cultural inilah yang dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi. (Hamzah B. Uno, 2008: 14-16).

C.     Penerapan Teori Humanis dalam Pendidikan (http//mickeydza90.blogspot.com)
Menurut Gage dan Berliner beberapa prinsip dasar dari pendekatan humanistik yang dapat kita pakai untuk mengembangkan pendidikan:
1.  Murid akan belajar dengan baik apa yang mereka mau dan perlu ketahui. Saat mereka telah mengembangkan kemampuan untuk menganalisa apa dan mengapa sesuatu penting untuk mereka sesuai dengan kemampuan untuk mengarahkan perilaku untuk mencapai yang dibutuhkan dan diinginkan, mereka akan belajar dengan lebih mudah dan lebih cepat. Sebagian besar pengajar dan ahli teori belajar akan setuju dengan dengan pernyataan ini, meskipun mereka mungkin akan tidak setuju tentang apa tepatnya yang menjadi motivasi murid.
2.  Mengetahui bagaimana cara belajar lebih penting daripada membutuhkan banyak pengetahuan. Dalam kelompok sosial kita dewasa ini dimana pengetahuan berganti dengan sangat cepat , pandangan ini banyak dibagi diantara kalangan pengajar, terutama mereka yang datang dari sudut pandang kognitif.
3.   Evaluasi diri adalah satu satunya evaluasi yang berarti untuk pekerjaan murid. Penekanan disini adalah pada perkembangan internal dan regulasi diri. Sementara banyak pengajar akan setuju bahwa ini adalah hal yang penting, mereka juga akan mengusung sebuah kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan murid untuk berhadapan dengan pengharapan eksternal. Pertemuan dengan pengaharapan eksternal seperti ini menghadapkan pertentangan pada sebagian besar teori humanistik.
4. Perasaan adalah sama penting dengan kenyataan. Banyak tugas dari pandangan humanistik seakan memvalidasi poin ini dan dalam satu area, pengajar yang berorientasi humanistik membuat sumbangan yang berarti untuk dasar pengetahuan kita.
5. Murid akan belajar dengan lebih baik dalam lingkungan yang tidak mengancam. Ini adalah salah satu area dimana pengajar humanistik telah memiliki dampak dalam praktek pendidikan. Orientasi yang mendukung saat ini adalah lingkungan harus tidak mengancam baik secara psikologis, emosional dan fisikal. Bagaimanapun, ada penelitian yang menyarankan lingkungan yang netral bahkan agak sejuk adalah yang terbaik untuk murid yang lebih tua dan sangat termotivasi.
Menurut aliran humanistik, para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikukum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang, untuk lebih baik, dan juga belajar. Jadi sekolah harus berhati-hati supaya tidak membunuh insting ini dengan memaksakan anak belajar sesuatu sebelum mereka siap. Jadi bukan hal yang benar apabila anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara fisiologis dan juga punya keinginan. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi, bukan sebagai konselor seperti dalam Freudian ataupun pengelola perilaku seperti pada behaviorisme.
Secara singkatnya, pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Para pendidik hanya membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Menurut teori ini ciri-ciri guru yang baik adalah yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Mampu mengatur ruang kelas lebih terbuka dan mampu menyesuaikannya pada perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah, mudah menjadi tidak sabar, suka melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.

D.    Implikasi dan Aplikasi Teori Belajar dalam Proses Pembelajaran dan Pengajaran
Guru sebagai fasilitator memberikan perhatian kepada siswa. Sebagai fasilitator merupakan cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes (petunjuk), diantaranya: Fasilitator membantu, mengatur, mengarahkan, dan pengambil prakarsa dalam proses pembelajaran dan implikasi (side effect) dari hasil pembelajaran. sebab guru merupakan salah satu sumber belajar. http//mickeydza90.blogspot.com.
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
  1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
  2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
  3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
  4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
  5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
  6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
  7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
  8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.

E.     Biografi Kolb
David Kolb lahir pada tahun 1939. dan ia dibesarkan di kota New York. Gelar BA-nya dari universitas Fordham pada tahun 1963. Dan Gelar Master of Artnya pada tahun 1964. Ia menerima gelar Master of Philosofy dari universitas Yale pada tahun 1970. dan Doktornya ia peroleh pada tahun 1972. Ia menulis disertasi “Conceptual Pluralism and Rationality”. Ia mengajar di Universitas Chicago sebelum ia pindah ke Bates pada tahun 1977.
Kolb telah menuslis beberapa artikel dan buku yang telah diterbitkan. diantaranyan:
  1. The Critique of Pure Modernity: Hegel, Heidegger, and After, 1987
  2. Postmodern Sophistications: Philosophy, Architecture, and Tradition, 1990
  3. New Perspectives on Hegel's Philosophy of Religion, 1992
  4. Socrates in the Labyrinth: Hypertext, Argument, Philosophy, 1994
  5. Sprawling Places, 2008
  6. "On the Objective and Subjective Grounding of Knowledge", translation, with introduction and notes, of an essay by the Neo-Kantian Paul Natorp, in the Journal of the British Society for Phenomenology, 1981.
  7. "Language and Metalanguage in Aquinas", in the Journal of Religion, 1981, "Socrates and Stories", in Spring, 1981.
  8. "Sellars on the Measure of All Things", in Philosophical Studies, 1979.
  9. "Ontological Priorities: A Critique of the Announced Goals of Descriptive Metaphysics", in Metaphilosophy, 1975.
  10. "Time and the Timeless in Greek Thought", in Philosophy East-West, 1974.
F.     Teori Belajar Menurut Kolb
Pembahasan seorang ahli yang bernama Kolb membagi tahapan belajar kepada empat kutub, yaitu.
1.               Pengalaman kongkrit (Concret Experience=CE)/feeling/intuisi
2.               Pengamatan aktif dan reflektif (Active Experience=AE)/doing/tindakan
3.               Konseptualisasi (Abstract Conceptualization=AC)/thingking/pemikiran
4.               Eksperimentasi aktif (Reflective Observation=RO)/waching/pemerhatian
Tanpa disadari dan direncanakan sebelumnya, setiap anak memiliki cara belajarnya sendiri. Mencoba mengenali "Gaya Belajar" anak, dan tentunya setelah guru mengenali "Gaya Belajar"nya sendiri, akan membuat proses belajar-mengajar jauh lebih efektif.
Dari sekian banyak teori atau temuan mengenai "Gaya Belajar", dalam kesempatan ini kita akan membahas sebuah model yang dikemukakan oleh David Kolb (Styles of Learning Inventory,1981).







                                                         CE/Feeling
 


                     Accomodator / 4                     Diverger / 1
AE/Doing                                                                                         RO/Waching
                     Corverger / 3                           Assimilator / 2

                                                         AC/Thinking
Bagan. Gaya pembelajaran Kolb

David Kolb mengemukakan adanya empat kutub yang telah disebutkan diatas, (1-4) kecenderungan seseorang dalam proses belajar, kutub-kutub tersebut yang dikutip dari (http//www.pdf reaserch.com). Antara lain:
a.   Kutub Perasaan/FEELING (Concrete Experience)
Anak belajar melalui perasaan, dengan menekankan segi-segi pengalaman kongkret, lebih mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain. Dalam proses belajar, anak cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapinya.
b.   Kutub Pemikiran/THINKING (Abstract Conceptualization)
Anak belajar melalui pemikiran dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Dalam proses belajar, anak akan mengandalkan perencanaan sistematis serta mengembangkan teori dan ide untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
c.   Kutub Pengamatan/WATCHING (Reflective Observation)
Anak belajar melalui pengamatan, penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Dalam proses belajar, anak akan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini/pendapat.
d.   Kutub Tindakan/DOING (Active Experimentation)
Anak belajar melalui tindakan, cenderung kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas,berani mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya. Dalam proses belajar, anak akan menghargai keberhasilannya dalam menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya. Menurut Kolb, tidak ada individu yang gaya belajarnya secara mutlak didominasi oleh salah satu saja dari kutub tadi. Yang biasanya terjadi adalah kombinasi dari dua kutub dan membentuk satu kecenderungan atau orientasi belajar. Empat kutub di atas membentuk empat kombinasi gaya belajar. Pada model di atas, empat kombinasi gaya belajar diwakili oleh angka 1 hingga 4, dengan penjelasan seperti di bawah ini:
1.  Gaya Diverger
Kombinasi dari perasaan dan pengamatan (feeling and watching). Anak dengan tipe Diverger unggul dalam melihat situasi kongkret dari banyak sudut pandang yang berbeda. Pendekatannya pada setiap situasi adalah "mengamati" dan bukan "bertindak". Anak seperti ini menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide (brainstorming), biasanya juga menyukai isu budaya serta suka sekali mengumpulkan berbagai informasi.
2.  Gaya Assimillator
Kombinasi dari berpikir dan mengamati (thinking and watching). Anak dengan tipe Assimilator memiliki kelebihan dalam memahami berbagai sajian informasi serta merangkumkannya dalam suatu format yang logis, singkat, dan jelas. Biasanya anak tipe ini kurang perhatian pada orang lain dan lebih menyukai ide serta konsep yang abstrak, mereka juga cenderung lebih teoritis.
3.  Gaya Converger
Kombinasi dari berfikir dan berbuat (thinking and doing). Anak dengan tipe Converger unggul dalam menemukan fungsi praktis dari berbagai ide dan teori. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebih menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif) daripada masalah sosial atau hubungan antar pribadi.
4.  Gaya Accomodator
Kombinasi dari perasaan dan tindakan (feeling and doing). Anak dengan tipe Accommodator memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang dilakukannya sendiri.
Mereka suka membuat rencana dan melibatkan dirinya dalam berbagai pengalaman baru dan menantang. Mereka cenderung untuk bertindak berdasarkan intuisi/dorongan hati daripada berdasarkan analisa logis. Dalam usaha memecahkan masalah, mereka biasanya mempertimbangkan faktor manusia (untuk mendapatkan masukan/informasi) dibanding analisa teknis.
Menyimak berbagai gaya belajar di atas, sebagai guru perlu kiranya kita tetap sensitif terhadap strategi belajar kita sendiri, yang mungkin sama atau sama sekali berbeda dengan orientasi belajar peserta didik di kelas. Perbedaan itu dapat menimbulkan kesulitan dalam kegiatan belajar-mengajar (dalam interaksi, komunikasi, kerjasama, dan penilaian). Jika mengajar kita pahami sebagai kesempatan membantu peserta didik untuk belajar, maka kita harus berusaha membantu mereka memahami "Style of Learning"nya, dengan tujuan meningkatkan segi-segi yang kuat dan memperbaiki sisi-sisi yang lemah dari padanya.
Pada tahap paling dini dalam proses belajar, seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mempunyai kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu. Ini lah yang terjadi pada tahap pertama proses belajar. (Hamzah B. Uno, 2008:15).
Pada tahap kedua, siswa tersebut lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya. Inilah yang kurang lebih terjadi pada tahap pengamatan aktif dan reflektif. (Hamzah B. Uno, 2008:15).
Pada tahap ketiga, siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi atau ”teori” tentang suatu hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini, siswa diharapkan sudah mampu untuk membut aturan-aturan umum (generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda, tetapi mempunyai landasan aturan yang sama. (Hamzah B. Uno, 2008:15).
Pada tahap akhir (eksperimentasi aktif), siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru. Dalam dunia matematika misalnya, siswa tidak hanya memahami ”asal-usul” sebuah rumus, tetapi ia juga mampu memakai rumus tersebut untuk memecahkan suatu masalah yang belum ia temui sebelumnya. (Hamzah B. Uno, 2008:15).
Menurut Kolb, siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung diluar kesadaran siswa. Dengan kata lain, meskipun dalam teorinya kita mampu membuat garis tegas antara tahap satu dengan tahap lainnya, namun dalam praktik peralihan dari satu tahap ke tahap lainnya itu seringkali begitu saja, sulit kita tentukan kapan beralihnya. (Hamzah B. Uno, 2008:15). Dari teori yang diungkapkan oleh Kolb menunjukkn bahwa anak dapat melakukan proses pemahaman terhadap teks dan konteks yang ada dihadapannya dapat diserap dengan baik, bila teks dan konteks yang disodorkan semakin konkrit. Anak-anak masih sulit memahami teks maupun konteks secara abstrak, walaupun secara bertahap mereka mulai dapat memahmi hal-hal yang abstrak dan membuat konsep-konsep sederhana.

G.    Karakteristik Gaya Belajar
Styles of Learning Kolb ini akan menjadi lebih sempurna bila dikaitkan dengan karakteristik gaya dan cara belajar siswa yang dikenal dengan tipe, Visual, auditory, dan kinestetik.
Manusia visual menerima dan memproses informasi dengan cara melihat dan menciftakan gambaran mentalnya. Secara khas, orang visual akan menggunakan kata-kata seperti ‘tunjukkan kepada saya’,’kelihatannya’, atau ‘perhatikan ini’. jika merasa bingung, mungkin ia berkata ‘saya hanya tak bisa melihatnya’. (Amir Tengku Ramly, 2008: 41).
Manusia auditory menerima dan memproses informasi dengan mendengarkan kata-kata atau suara-suara. Orang auditory cenderung menggunakan kata-kata seperti ‘ceritakan pada saya’, ‘kedengarannya seperti…’, ‘saya ingin mendengarkan lagi’’. Jika sedang bingung, biasanya cepat berkata ‘kedengarannya tidak betul’, dan ‘saya tidak bisa mendengar anda’. (Amir Tengku Ramly, 2008: 41).
Manusia kinestetik menerima dan memproses informasi melalui perasaan dan sensasi. Biasanya cepat berkata ‘rasanya seperti…’, ‘bagi saya rasanya enak’, ‘saya merasa anda ingin supaya saya…’. Jika bingung, mungkin akan berkata ‘ada yang terasa tidak benar’, ‘saya tidak bisa merasakannya’. (Amir Tengku Ramly, 2008: 41).
Bila guru merasa kesulitan dalam mengajar, mengapa siswanya tidak mau memperhatikan materi yang disampaikan, boleh jadi karena gaya dan cara belajar antara guru dan siswa berbeda. Saat menggunakan teknik bercerita dan diskusi, anak yang memiliki cara dan gaya belajar auditory, maka ia dengan mudah menangkap materi yang diajarkan, sementara anak yang cara dan gaya belajarnya visual tampak acuh dan anak yang cara dan gaya belajarnya kinestetik menguap karena bosan. Saat menggunakan alat peraga gambar, ganti anak auditory yang kurang semangat sementara anak visual dengan antusias mengikuti, sedang anak kinestetik tampak biasa-biasa saja. Namun, saat guru mengajak mereka mengerjakan prakarya, anak kinestetik begitu bersemangat, sementara auditory dan visual ogah-ogahan mengikuti materi yang disampaikan oleh gurunya.

H.    Peran Guru (Roles of Teacher)
Peran guru  dalam teori psikologi humanistik, merupakan salah satu dari sekian sumber belajar, ia sebagai fasilitator. Hal ini sejalan dengan  Carl Roger dalam buku Uyoh Sadulloh (2003: 174). Guru harus dapat dan mampu mengkonstruksikan perbedaan-perbedaan yang dimiliki siswa, baik karakter, cara belajar, dan lain-lian, guru dapat mengelola perbedaan-perbedaan tersebut dan tidak hanya mau didengarkan tetapi juga harus mau mendengarkan.
Guru sebagai pembimbing siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan proyek. Mungkin akan banyak guru yang kurang senang terhadap peran ini, karena didasarkan atas suatu anggapan siswa mampu berpikir dan mengadakan penjelajahan terhadapa kebutuhan dan minat sendiri. Sebab siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna, menemukan sumber-sumber data yang relevan, menafsirkan dan menilai akurasi data, serta merumuskan kesimpulan. Guru harus mengenali siswa, terutama pada saat apakah ia memerlukan bantuan khusus dalam kegiatan, sehingga ia dapat meneruskan penelitiannya. Guru dituntut untuk sabar, fleksibel, berfikir interisipliner, dan cerdas. (Uyo Sadulloh, 2003: 148).
Tanpa disadari dan direncanakan sebelumnya, setiap anak memiliki cara belajarnya sendiri. Mencoba mengenali "Gaya Belajar" anak, dan tentunya setelah guru mengenali "Gaya Belajar"nya sendiri, akan membuat proses belajar-mengajar jauh lebih efektif dan bermakna, bila guru mendorong siswa untuk belajar dan tumbuh.
Guru sering dibuat jengkel oleh muridnya, karena ia tidak mau memperhatikan dan mendengarkan, siswanya bersipat masabodoh, tiada peduli, dan acuh tak acuh. Ternyata disamping harus memahami siswa-siswi kita secara total (kaffah), guru juga harus memiliki hubungan yang erat dengan bentuk silaturahim. Ternyata sikap-sikap yang dicapkan kepada siswa yang kita ajarkan tersebut, dibalik itu semua mereka membutuhkan perhatian dan penghargaan.
Solusi yang harus dilakuakan oleh guru, mereka harus memberi pujian dan hadiah juga merupakan suatu pendorong samangat kerja, tidak perlu banyak dikeritik, pilih kasih terhadap siswa yang “pintar dan bodoh” (M. Nashir Ali, 1987: 58). Disamping itu gaya bahasa dan cara menyampaikan materipun harus disadari oleh guru, siapa dan bagaimana siswa yang saya hadapi, sehingga pembelajarannya lebih meaningfull learning.
Ceritah berikut ini mengilustrasikan bagaimana anak/siswa dapat memahami teks dan konteks yang akan disampaikan oleh guru kepada siswa kelas satu dan kelas empat sekolah dasar yang sesuai dengan daya serapnya masing-masing.
Tertib di Kelas
pak guru mengajar
kami duduk tenang
kami memperhatikan apa yang diajarkan
kami ingin pintar.
(Dyah Sriwilujeng, 2007: 27)

Kisah Seorang Guru Ngaji
       Alkisah, di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota, tinggallah seorang guru ngaji yang sangat bersahaja. Guru ngaji itu bernama Pak Salim. Sebagai guru ngaji Pak Salim tidak dibayar. Namun, Pak Salim melakukannya dengan senang hati karena menurut dia itu merupakan ibadah. Sehabis jamaah shalat Maghrib di musholla, Pak Salim dikelilingi anak-anak untuk belajar mengaji.
    Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Salim membuka warung sayur kecil-kecilan dibantu istrinya. Setiap dua hari sekali Pak Salim membeli barang dagangannya di desa lain yang cukup jauh dengan naik angkutan umum (angkudes).
      Pada suatu hari, seperti biasanya Pak Salim pagi-pagi berangkat membeli sayur-mayur dengan naik angkudes. Karena hari itu agak banyak pesanan dari para pelanggan, bawaan Pak Salim cukup banyak. Begitu Pak Salim turun dari kendaraan bersama dagangan yang dibelinya, sebelum Pak Salim sempat membayar ongkos, angkudes yang ditumpanginya keburu pergi. Setelah segera pergi mencari sopir angkudes yang ditumpanginya.
            Sesampai di terminal angkudes biasanya dia naik turun, ternyata angkudes yang ditumpanginya sudah pergi. Oleh orang yang ada di terminal, Pak Salim diberi tahu bahwa angkudes yang dicarinya menuju ke selatan. Pak Salim pun mencarinya ke selatan, namun tidak menemukannya. Setelah istirahat shalat Dzuhur Pak Salim melanjutkan pencariannya dan dilanjutkan sesudah shalat ‘Ashar. Alhamdulillah, menjelang waktu Maghrib, Pak Salim dapat menemukan sopir angkudes yang dicarinya. Pak Salim segera membayar ongkos tumpangan dan tidak lupa Pak Salim mohon maaf. Pak Salim pun segera pulang.
            Di musholla, anak-anak sudah gelisah, begitu juga istri Pak Salim. Ke mana gerangan Pak Salim?Biasanya waktu Maghrib Pak Salim berjamaah di musholla dan segera mulai mengajar ngaji.Kecemasan anak-anak pun lenyap begitu melihat Pak Salim datang tergopoh-gopoh sambil mengucapkan salam kepada anak-anak. Setelah Pak Salim selesai shalat Maghrib, dia pun bercerita tentang keterlambatannya. Anak-anak mendengarkan kisah pengalaman Pak Salim hari itu dengan penuh perhatian. Anak-anak yang masih lugu itu pun bertanya: mengapa Pak Salim tidak menunggu besok pagi atau kapan saja. Bukankah Pak Salim sering ketemu sopir yang sudah lama dia kenal dan dapat membayarnya pada saat ketemu?
            Mendengar pertanyaan itu Pak Salim pun menjawab dengan pelan tetapi penuh kesungguhan: ” Anak-anak sekalian, hal itu saya lakukan karena saya tidak ingin merugikan orang lain. Tidak ingin mengambil hak oranglain. Bukankah ongkos tumpangan itu ditunggu keluarga pak sopir?!Kedua, karena saya merasa berhutang sekalipun tidak sengaja dan oleh karenanya harus segera saya bayarkan. Mengapa?Karena saya tidak yakin dapat bertemu dengan sopir yang saya cari. Siapa yang dapat menjamin bahwa saya akan dapat ketemu sopir yang baik hati itu?”
             Mendengar alasan Pak Salim itu, semua anak tercenung, bahkan ada yang meneteskan air mata. Mereka bangga dan memuji pak guru ngaji yang sederhana itu ternyata berhati mulia.Seorang guru yang patut diteladani. Dia tidak mau mengambil hak orang lain. Dia penuhi hak orang lain dengan ikhlas meskipun dia harus bersusah payah karena itu merupakan kewajibannya! Subhanallah. (Ahmad Mursyidi, Makalah Lokakarya).
Memang proses belajar mengajar terpusat kepada anak/siswa, namun hal ini tidak berarti bahwa anak akan diizinkan untuk mengikuti semua keinginannya, karena ia belum cukup matang untuk menetukan tujuan yang memadai. Anak memang banyak berbuat dalam menentukan proses belajar, namun ia bukan penentu akhir. Siswa membutuhkan bimbingan dan arahan dari guru dalam melaksanakan aktivitasnya.
Pengelaman anak adalah rekonstruksi yang terus menerus dari keinginan dan kepentingan pribadi. Mereka aktif bergerak untuk mendapatkan isi mata pelajran yang logis. Guru mempengaruhi pertumbuhan siswa, tidak dengan menjejalkan informasi ke dalam kepala anak, melainkan dengan pengawasan lingkungan di mana pendidikan berlansung. Pertumbuhan diartikan sebagai peningkatan intelegensi dalam pengelolaan hidup dan adaptasi yang intelegen (cerdas) terhadap lingkungan. (Uyo Sadulloh, 2003: 146).
Guru harus benar-benar memahami motivasi belajar siswanya dan kemudian memberi motivasi yang tepat. Apabila siswa motivasi berprestasi tinggi, lebih berkeinginan meraih keberhasilan, lebih terlibat dalam tugas-tugas dan tidak menyukai kegagalan, maka dalam hal ini tugas guru menyalurkan semangat kerja keras, dan apabila siswa memiliki motivasi berprestasi rendah, yang pada umumnya lebih suka menghindari dari tugas, maka guru sebaiknya memberi motivasi yang lebih agar siswa tersebut sadar akan belajar dan diharapkan guru mampu berkreasi dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran.
Peran guru tidak lah menjadi berat dan terbebani, bila guru tersebut sudah sampai pada tahap guru professional. Guru telah menjadi profesi bagi sebagian orang. Profesi yang berasal dari kata to profess yang artinya menyatakan atau menjabat. Suatu pernyataan atau janji yang terbuka. Bahwa seorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan dalam arti biasa, karena merasa terpanggil. (Abdullah Idi, 2005: 1). Hal ini menunjukkan kalau guru dijadikan profesi maka pelayanannya merupakan pelayanan prima, sehingga disebutlah dengan istilah guru profesional.
Guru professional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu, dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. ( Kunandar, 2007: 48). Didalam Undang-undang Guru dan Dosenpun telah disebutkan guru adalah pendidika yang profesinal. Dan ini merupakan payung bagi guru untuk menunjukkan jati dirinya.
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).
Guru sebagai pendidik maka ia harus terdidik, guru sebagai pengajar ia harus terpelajar, guru sebagai pembimbing dan pengarah ia harus terarah, guru sebagai pelatih ia harus terlatih, guru sebagai penilai ia harus bernilai,dan  guru sebagai pengevaluasi ia harus instrupeksi diri. Sehingga guru sadar betul kalau ia berada didalam kelas bukanlah untuk mencetak manusia-manusia turbo. Melaikan menjadi guru professional. Yang ketika ia hadir, siswa-siswinya merasakan aura kesejukan, kedamaian, kenyamanan, keceriaan, dan lain-lain. Tentu saja suasana didalam kelas tersebut akan selalu dirindukan oleh siswa-siswinya.
Guru professional diibaratkan seperti seniman. Seniman tidak pernah melukis yang sudah pernah dilukis, tertata, dan ekspresif totalitas. Bila konsep seniman ini diterapkan oleh guru agar tercapai guru yang professional, ia akan paham bagaiman betul mengajar yang setiap anak memiliki karakter yang berbeda serta dan pola belajar yang berbeda, tentu saja guru tidak mengajar dikelas seperti menonton televisi dan ia sebagai pengendali chanel melalui remote. Guru juga harus tertata, sikapnya, ucapannya, dan perbuatannya, serta ekspresif totalitas, guru seperti ini tidak pernah merasa puas dan ia akan selalu belajar. Guru adalah jiwanya, sehingga bila jiwa itu lari dari jasadnya maka guru itu sudah mulai merasakan kematianya dalam mendidik, membimbing dan seterusnya.
Guru profesional juga harus tajam namun tidak melukai, harus cepat tapi tidak mendahului, harus serdas tapi tidak membodohi. Ketiga hal ini harus dianut oleh guru professional agar kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpinnya merasa bangga terhadap guru binaanya, sehingga gerbang keberhasilan anda untuk menjadi guru professional telah berada dalam genggaman.
Ketika guru sudah tidak pada etiknya (tidak professional), maka wajar kalau akhir-akhir ini mulai dipertanyakan profesionalisme guru, karena banyak pelajar-pelajar sebagai orang yang terdidik justru malah tidak berpendidikan. Tawuran antar pelajar, pemukulan oleh guru kepada siswa dan sebaliknya. Fenomena ini tidak lepas dari peran guru yang mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, dan melatih siswanya secara kognitif, afektif, dan psikomotor agar menjadi siswa yang berakhlak mulia dan bertakwa kepada Allah.
Guru yang professional bukanlah guru yang hanya dapat mengajar dengan baik, tetapi juga guru yang dapat mendidik. Untuk ini selain menguasai ilmu yang daiajarkan dan cara mengajarkannya dengan baik, seorang guru juga harus memiliki akhlak yang baik. Meningkatkan pengetahuan, menjadi motivator, inspirator, dinamisator, fasilitator, katalisator, dan evaluator. (Abuddin Nata, 2003: 147). Sehingga guru dapat dijadikannya idola.
Untuk menjadi guru idola, harus merubah paradigma teaching (to have) kepada paradigman learning (to be). Paradigma to have (memiliki) adalah suatu gagasan atau pola pikir seseorang yang cenderung dan mengutamakan pada kebutuhan materi, sedangkan paradigma to be (menjadi) adalah suatu gagasan atau pola pikir yang cenderung pada nilai-nilai non materi. (Amir Tengku Ramli, 2008: 20). Dengan konsep to be siswa dituntut dapat mengahdapi dan memecahkan masalahnya sendiri, karena guru hanyalah sebagai fasilitator atau patner yang pengajarannya mengedepankan nilai-nilai dan jiwa yang hidup, dengan cinta dan kasih sayang. 
Guru tidak hanya berhenti hanya pada peran sebagai the messenger who delivers the message. Identitas dan integritas seorang guru memungkinkannya untuk menyapa setiap pribadi peserta didik, menyentuh hatinya, dan membebaskannya untuk menemukan guru didalam dirinya sendiri. Palmer menyebutnya the teacher within. Implikasinya seorang guru sejati dipanggil untuk membebaskan peserta didik bukan saja dari ketidak tahuan melainkan juga membebaskan peserta didik ketergantungan kepada guru. Seorang guru dipanggil untuk membebaskan peserta didik dari ketidak sadaran bahwa sebenarnya si peserta didik mempunyai guru sendiri, yakni yang ada didalam dirinya sendiri, yang akan terus membimbing dan memimpinnya sepanjang hayat. (Anita Lie, 2008: 26). Untuk mengarah kepada paradigma to be guru juga harus memiliki kompotensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional.

I.       Peran Siswa (Roles of Student)
Siswa akan maju menurut iramanya sendiri dengan suatu perangkat materi yang sudah ditentukan lebih dulu untuk mencapai suatu perangkat tujuan yang telah ditentukan pula dan para siswa bebas menentukan cara mereka sendiri dalam mencapai tujuan mereka sendiri. Wasty Suamanto, 2006: 238). Siswa merupakan center of interes dalam kajian psikologi humanistik. Dan termasuk bagian pentin dalam partisipasi sosial (Active social participation).
Dalam menentukan kriteria ketuntasan minimal (KKM) penetapan itu harus dilihat secara universal, seperti kemampuan siswa dan guru, kondisi sekolah, dan sarana prasarana yang tersedia untuk menyampaikan materi yang berkaitan. (Kunandar, 2007: 428). Peran siswa sangat berpengaruh, sehingga bila keterlibatan mereka sangat sedikit, akan mengakibatkan kejumudan dan kejenuhan bagi siswa untuk memenuhi tuntutan guru terhadap dirinya, sebab lembaga pendidikan bukanlah tempat atau fasilitas untuk berlakunya proses pembelajaran yang tidak manusiawi.
Anak atau siswa yang rasional selalu bertindak sesuai tingkatan perkembagangan umur mereka. Ia mengadakan reaksi-reaksi terhadap lingkungannya, atau adanya aksi dari ligkungan maka ia melakukan ketiatan atua aktivitas. Dalam pendidikan kuno aktivitas anak tidak pernah diperhatiakn karena menurut mereka anak dilahirkan tidak lain sebagai “orang dewasa dalam bentuk kecil”. Ia harus diajar menurut kehendak orang dewasa. Karena itu ia harus menerima dan mendengarkan apa-apa yang diberikan dan disampaikan orang dewasa atau guru tanpa kritik. Anak tak obah seperti gelas kosong yang pasif menerima apa saja yang dituangkan kedalamnya. (Ramayulis, 2005: 105). Apa yang telah disampaikan oleh Ramyulis tersebut, merupakan sekelumit fenomena yang telah dan berlansung didalam dunia pendidikan bangsa  Indonesia. Walaupun sudah ada sebagian yang sudah berpindah kepada paradigma manusiawi.
Dari kutub-kutub yang telah disampaikan oleh Kolb, yang dituntut untuk memahami adalah guru, bukan siswa, guru dituntut untuk memahami karakteristik dan gaya belajar siswa. Sehingga kefitrahan siswa tidak termarjinalisasi.

J.      Peran Teman Sebaya (Roles of Peers)
Peran teman sebaya pada psikologi humanistik memiliki peran penting. Anak-anak itu memiliki kecerdasan dan kemerdekaan yang hakiki, dan anak-anak yang seumur atau sebaya lebih dapat menyampaikan pesan-pesan diantara mereka, ketimbang terhadap guru atau orang tua mereka sendiri.
Manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyi individualitas hidup dalam dan dengan kelompok sosial. Kelompok manusia itu merupakan gejala universal. Manusia tidak mungkin hidup tanpa kelompok, justru kelompok sosiallah yang menjadikan manusai dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana wajarnya. (Abu Ahmadi, 2007: 77). Kerjasama merupakan bagaimana salah satu media agar antar siswa dapat bertukar peran. Dapat kita lihat bahwa kesempatan kerjasama ini di sekolah kurang mendapat perhatian. Kerja kelompok sebagai metode mengajar jarang dilakukan. Murid-murid dilarang berkerjasama atau bertukar pikiran selama jam pelajaran. (Nasution, 2009: 75). Dan sekolah biasanya terlampau memusatkan perhatian kepada pendidikan akademis. Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian ialah memupuk hubungan sosial dikalangan murid-murid. (Nasution, 2009: 51).  
Belajar adalah suatu proses. Artinya kegiatan belajar terjadi secara dinamis dan terus-menerus yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam diri anak. Perubahan yang dimaksud dapat berupa pengetahuan (knowledge) atau perilaku (behavior).
Dua anak yang tumbuh dalam kondisi dan lingkungan yang sama dan meskipun mendapat perlakuan yang sama, belum tentu akan memiliki pemahanan, pemikiran dan pandangan yang sama terhadap dunia sekitarnya. Masing-masing memiliki cara pandang sendiri terhadap setiap peristiwa yang dilihat dan dialaminya. Belajar sebenarnya mengandung arti bagaimana kita menerima informasi dari dunia sekitar kita dan bagaimana kita memproses dan menggunakan informasi tersebut. Mengingat setiap individu memiliki keunikan tersendiri dan tidak pernah ada dua orang yang memiliki pengalaman hidup yang sama persis. Maka peran teman sebaya merupakan “pengayaan” antar individu yang unik.

K.    Konsep Dalil Naqli terhadap Teori Humanistik Kolb
tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ   tA$s% y7¨RÎ) `s9 yìÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #ZŽö9|¹ ÇÏÐÈ   y#øx.ur çŽÉ9óÁs? 4n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #ZŽö9äz ÇÏÑÈ   tA$s% þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ   tA$s% ÈbÎ*sù ÓÍ_tF÷èt7¨?$# Ÿxsù ÓÍ_ù=t«ó¡s? `tã >äóÓx« #Ó¨Lym y^Ï÷né& y7s9 çm÷ZÏB #[ø.ÏŒ ÇÐÉÈ  

 “Musa berkata kepada Khidir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?". Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?". Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun". Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu". (Q.S. al-Kahfi; 66-70).

Asbabun Nuzul ayat ini diriwayatkan dari Imam Bukhari melalui sahabat Nabi yang bernama Ibn ‘Abbas bahwa ia mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda, “ Sesungguhnya Musa tampil berkhutbah di depan Bani Israil, lalu dia ditanya, siapakah orang yang paling berilmu? Musa menjawab “saya”. Maka Allah mengecamnya karena dia tidak mengembalikan pengetahuan tentang hal tersebut kepada Allah. Lalu Allah mewahyukan kepadanya bahwa: “aku mempunyai seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan. Dia lebih mengetahui daripada engkau. Nabi Musa A.S. bertanya “Tuhan bagaimana aku dapat bertemu dengannya?” Allah berfirman “ambillah seekor ikan dan tempatkan ia diwadah yang terbuat dari daun kurma lalu ditempat mana engkau kehilangan ikan itu, maka disanalah dia.”
Guru sebagai fasilitator memiliki peranan sebagai membantu, mengatur, mengarahkan, dan pengambil prakarsa. Salahsatunya merupakan makna dari kata tabi’a. Dalam teks ayat ini mendapat tambahan ta pada kata attabi’aka mengandung makna kesungguhan dalam upaya mengikuti (Pelajaran). Musa sebagai pengikut atau pelajar. Jadi sekolah harus berhati-hati supaya tidak membunuh insting ini dengan memaksakan anak belajar sesuatu sebelum mereka siap. Jadi bukan hal yang benar apabila anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara fisiologis dan juga punya keinginan
kata khubra pada ayat ini bermakna pengetahuan yang mendalam. Dari akar yang sama lahir kata khabir yakni pakar yang sangat dalam pengetahuannya. Nabi Musa A.S. memiliki ilmu lahiriah dan meniaia sesuatu berdasarkan hal-hal yang bersifat lahiriah (watching and doing). Tetapi seperti diketahui, setiap hal yang lahir ada pula sisi bathiniahnya, yang mempunyai peranan yang tidak kecil bagi lahirnya hal-hal yang bersifat lahiriah. Sisi bathiniah inilah yang tidak terjangkau oleh pengetahuan Nabi Musa A.S. (M. Quraish Shihab, 2002: 97-99). ketidak terjangkauan Nabi Musa karena ia belum sampai pada pemahaman abstrak, karena ia baru saja menjadi murid Khidir. dalam teori Kolb baru pada dataran pengelaman konkrit, sehingga makna bathinaihnya(feeling and thingking) (abstrak) belum dapat dipahami oleh Nabi Musa.
Pada ayat ketujuh puluh, dalam ayat ini Khidir dapat menerima Musa dengan pesan “jika kamu (Nabi Musa) berjalan bersamaku  (Khidir) maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan padamu duduk persoalan. Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dapat kau benarkan hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya untuk menerangkan keadaan yang sebenarnya. Pada ayat ini sesuai dengan teori humanistik, dalam proses pembelajaran siswa diberikan kebebasan sehingga tercapai pembelajaran yang bermakna. Namun guru sebagai fasilitator yang dapat mengarahkan muridnya. Sebab gurunyalah yang memegang rahasianya.
Nabi Musa mau menerima syarat itu, mamang sebenarnya sikap Nabi Musa yang demikian itu merupakan sopan santun orang yang terpelajar terhadap gurunya, sikap sopan santun murid terhadap gurunya. Kadang-kadang rahasia guru belum tentu dapat dipahami oleh muridnya, tapi baru dapat dipahami kelak kemudian hari. (Depag, al-Quran dan Tafsirnya: 641).
Pengelaman Nabi Musa dalam pembelajaran bersama Khidir, telah memberikan gambaran bagi teori humanistik Kolb. Dari keempat proses pembelajaran Kolb, Pengalaman kongkrit, Pengamatan aktif dan reflektif,  Konseptualisasi, Eksperimentasi aktif. telah tergambar dalam proses pembelaharan yang dilalui Nabi Musa A.S.

L.     Kelebihan dan Kelemahan
Styles of Learning yang disampaika Kolb telah memberikan inspirasi bagi dunia pendidikan untuk memahami setiap anak memiliki cara belajarnya sendiri. Mencoba mengenali "Gaya Belajar" anak, dan tentunya setelah guru mengenali "Gaya Belajar"nya sendiri, akan membuat proses belajar-mengajar jauh lebih efektif.
Dari sekian banyak teori atau temuan mengenai "Gaya Belajar", model yang dikemukakan oleh David Kolb (Styles of Learning Inventory). Keempat kutub yang disampaikan tersebut relative mudah untuk mamahami gaya belajar masing-masing, sehingga guru sebagai fasilitator untuk memahami dan mengarahkan antar individu unik yang dihadapinya. Dari keempat kutub tersebut merupakan pelengkap bagi teori-toeri humanistik sebelumnya, seperti Carl Roger, Abraham Maslow dan sebagainya. Karena setiap teori yang disampaikan akan bermakna bila dilihat dari sudur pandang pembacanya.
Kekurangan dari teori ini, Kolb tidak menyampaikan kalau setiap individu itu memiliki karakternya masing-masing. Penulis menganjurkan untuk membaca bukunya Amir Tengku Ramli dalam bukunya Pumping Talent atau bukunya Del Kernegy, The Personality Plus. Sehingga kekurangan yang dimiliki oleh terori Kolb tersebut dapat dilengkapi denan teori pendukungnya. Dan disinilah letak analisis diskriptif dari kajian ilmiah ini.


M.   Kesimpulan
Teori Humanistik telah memberikan cara belajar yang lebih bermakna, sehingga dalam proses belajar dan mengajar ada peran dan peranan yang harus dijalani dengan baik sesuai dengan asas humanisasi.
Kolb sebagai salah satu yang termasuk dalam teori psikologi humanistik memberikan sumbangan dalam proses pembelajaran, yang ia tulis dalam keempat proses pembelajaran Kolb (Styles of Learning Inventory). Yang terbagi dalam empat kutub. Pengalaman kongkrit, Pengamatan aktif dan reflektif,  konseptualisasi, serta eksperimentasi aktif. Yang keempatnya itu dapat muncul tanpa disadari. Dari keempat kutub ini memunculkan kembali pertemuan antar kutub, yang ia kembangkan dengan istilah Gaya Diverger kombinasi dari perasaan dan pengamatan (feeling and watching), Gaya Assimillator kombinasi dari berpikir dan mengamati (thinking and watching), Gaya Converger kombinasi dari berfikir dan berbuat (thinking and doing) dan Gaya Accomodator kombinasi dari perasaan dan tindakan (feeling and doing).
Teori Humanistik yang telah diungkapkan oleh Kolb, dapat tergambar dalam proses pembelajaran Nabi Musa dengan Khidir. Dimana Nabi Musa sebagai Murid belum dapat memahami pengelaman abstrak (feeling and thinking) yang tersirat pada lafaz Fala tasalni.., yang terjelma dalam aktifitas belajarnya, denga istilah pengamatan aktif, reflektif konseptual, dan eksperimentasi aktif.












DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2007. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Ali, Nashir. 1987. Jalan Memintas dalam Mendidik. Jakarta: Balai Pustaka.

Departemen Agama RI. 2008. Al-Qur`an dan Tafsirnya, (edisi yang disempurnakan) Jakarta.

Idi, Abdullah. 2005. No. 1/Tahun V, Juni Prosfek Profesi Guru, dalam Jurnal Istinbath.

Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Lie, Anita. 2008. Memudahkan Anak Belajar. Jakarta: Kompas.
________. 2008. No. 07-08, Tahun ke 57, Juli-Agustus. Guru: Perjalanan dan Panggilan, dalam Jurnal Basis.

Mursyidi, Ahmad. 2007. 14-15 Agustus, Kisah Seorang Guru Ngaji, Makalah Lokakarya, Yogyakarta.

Nasution, S., 2009. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Nata, Abuddin. 2003. Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada Media.

Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Ramly, Amir Tengku. 2008. Pumping Talent Memahami Diri, Memompa Bakat. Bandung: Pumping Publisher.

________. 2008. Menjadi Guru Idola. Bogor: Pumping Publisher.

Sadulloh, Uyo. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.

Sriwilujeng, Dyah. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Erlangga.
Suhartono, Suparlan. 2008. Filsafat Ilmu Pengetahuan Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Soemanto, Wasty. 2006., Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Uno, Hamzah B. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

UURI Nomor 14 Tahun 2004 tentang Guru dan Dosen.

Pribadi, Benny A. 2009. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Karya.


http//www. mickeydza90.blogspot.com.

http//www. suhirman.ngeblogs. com.

http//www. wikipidia.com.

http//www. pdf reaserch.com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar